Sabtu, 24 Januari 2015

LAPORAN PENDAHULUAN ISOLASI SOSIAL

LAPORAN PENDAHULUAN
ISOLASI SOSIAL

A.  MASALAH UTAMA
Isolasi Sosial
B.  PROSESE TERJADINYA MASALAH
1.    Pengertian
Isolasi sosial adalah suatu sikap dimana individu menghindari diri dari interaksi dengan orang lain. Individu merasa bahwa ia kehilangan hubungan akrab dan tidak mempunyai kesempatan untuk membagi perasaan, pikiran, prestasi, atau kegagalan. Ia mempunyai kesulitan untuk berhubungan secara spontan dengan orang lain, yang dimanifeetasikan dengan sikap memisahkan diri, tidak ada perhatian, dan tidak sanggup membagi pengamatan dengan orang lain ( Balitbang, 2007 )
Kerusakan interaksi sosial merupakan suatu gangguan hubungan interpresonal yang terjadi akibat adanya kepribadian yang tidak fleksibel yang menimbulkan perilaku maladaptif dan mengganggu fungsi seseorang dalam hubungan sosial (Depkes RI, 2000)
Isolasi sosial adalah percobaan menghindari interaksi dengan orang lain, menghindari hubungan dengan orang lain (Keliat, budi anna 1998)
Kesimpulan : isolasi sosial adalah suatu keadaan dimana indifidu tidak mau mengadakan interaksi terhadap komunitas disekitarnya, atau sengaja menghindari untuk berinteraksi yang dikarnakan orang lain atau keadaan disekitar diangap mengancam bagi indifidu tersebut.
2.    Tanda Dan Gejala
Berikut ini adalah tanda dan gejala klien dengan isolasi sosial.
a.    Kurang spontan
b.    Apatis ( acuh terhadap lingkungan )
c.    Ekspresi wajah kurang berseri
d.   Tidak merawat diri dan tidak memperhatikan diri
e.    Tidak ada atau kurang komunikasi verbal
f.      Mengisolasi diri
g.    Tidak atau kurang sadar terhadap lingkungan sekitarnya
h.    Asupan makanan dan minuman terganggu
i.      Retensi urine dan feces
j.      Aktivitas menurun
k.    Kurang energi ( tenaga )
l.      Rendah diri
m.  Postur tubuh berubah, misalnya sikap fetus / janin ( khususnya pada posisi tidur )
3.    Rentang respon
Manusia adalah mahluk sosial, untuk mencapai kepuasan dalam kehidupan, mereka harus membina hubungan interpersonal yang positif, hubungan interpersonal yang sehat terjadi Jika individu yang terlibat saling merasakan kedekatan sementara identitas peribadi masih tetap dipertahankan.
Jika perlu untuk membina perasaan saling tergantung yang merupakan kesimbangan antara ketergantungan dan kemandirian dalam suatu hubungan
Perilaku yang teramati pada respon sosial maladaftip mewakili upaya individu untuk mengatasi ansietas yang berhubungan dengan kesepian, rasa takut, kemarahan, malu, rasa bersalahdan merasa tidak aman. Sering kali respon yang terjadi meliputi menipulasi, narkisme infulsip

Respon adaptif                                                         Respon maladaptif
           
Menyendiri                        Merasa sendiri                        menarik diri
Otonomi                                           dependensi                       ketergantungan          
Bekerja sama                         curiga                                  manipulasi
Interdependen                                                                     Curiga

Gambar 1.1. Rentan Respon Isolasi Sosial

a.    Respon adaptif adalah respon yang diterima oleh norma-norma sosial dan kebudayaaan yang berlaku dimana individu tersebut menyelesaikan masalahnya masih dalam batas normal.
b.    Respon maladaptive adalah respon yang dilakukan individu dalam menyelesaikan masalahnya.yang sudah menyamping dari norma-norma sosial dan kebudayaan suatu tempat.prilaku yang berhubungan dengan respon sosial maladaptive, adalah menipulasi, impulsive dan narkisme , prilaku yang brhubungan dengan respon sosial maladaptive, adalah menipulasi , impulsive dan narkisme prilaku yang berhubungan dengan respon sosial mal adaptif
4.    Faktor predisposisi
a.    Faktor tumbuh kembang
Faktor perkembangan kemampuan membina hubungan yang sehat tergantung dari pengalaman selama proses tumbuh kembang. Setiap tahap tumbuh kembang memilki tugas yang harus dilalui indifidu dengan sukses, karna apabila tugas perkembangan ini tidak terpenuhi akan menghambat perkembangan selanjutnya, kurang stimulasi kasih sayang,perhatian dan kehangatan dari ibu (pengasuh)pada bayi akan membari rasa tidak aman yang dapat menghambat terbentuknya rasa percaya.
b.    Factor biologi
Genetic adalah salah satu factor pendukung ganguan jiwa, fakor genetic dapat menunjang terhadap respon sosial maladaptive ada bukri terdahulu tentang terlibatnya neurotransmitter dalam perkembangan ganguan ini namun tahap masih diperlukan penelitian lebih lanjut.
c.    Factor sosial budaya
Factor sosial budaya dapat menjadi factor pendukung terjadinya ganguan dalm membina hubungan dengan orang lain, misalnya angota keluarga, yang tidak produktif, diasingkan dari orang lain.


d.   Faktor komunikasi dalam keluarga.
Pola komunikasai dalam keluarga dapat mengantarkan seseorang kedalam ganguan berhubungan bila keluarga hanya mengkounikasikan hal-hal yang negative akan mendorong anak mengembangkan harga diri rendah.
5.    Faktor presipitasi
Stressor pencetus pada umumnya mencakup kejadian kehidupan yang penuh stress seperti kehilangan yang mempengaruhi kemampuan individu untuk berhubungan dengan orang lain dan menyebabkan ansietas.
a.    Stressor sosial kultur
Stress dapat ditimbulkan oleh menurunnya stabilitas unit keluar dan berpisah dengan orang yang berarti dalam kehidupannya, misalnya dirawat di rumah sakit.
b.    Stressor psikologis
Ansietas berkepanjangan terjadi bersama dengan keterbatasan kemampuan untuk mengatasi tuntutan untuk berpisah dangan orang terdekat atau kebanyakan orang lain untuk memenuhi kebutuhan untuk ketergantungan dapat menimbulkan ansietas tinggi.
6.    Mekanisme koping
Mekanisme koping digunakan klien sebagai usaha mengatasi kecemasan yang merupakan suatu kesepian nyata yang mengancam dirinya.
Mekanisme koping yang sering digunakan pada menarik diri adalah proyeksi dan represi :
a.       Proyeksi adalah keinginan yang tidak dapat ditoleransi ,mencurahkan emosi kepada oranglain, Karena kesalahan yang dilakukan sendiri.
b.      Regresi adalah menghindari setres, kecemasan dengan menampilkan prilaku kembali seperti pada perkembangan anak
c.       Represi adalah menekan perasaan atau pengalaman yang menyakitkan atau komflik atau ingatan dari kesadaran yang cendrung memperkuat mekanisme ego lainya
7.      Perilaku
a.       Menarik diri :
kurang spontan, apatis, ekspresiiwajah kurang berseri, defisit perawatan diri, komunikasi kurang, isolasi diri, aktivitas menurun, kurang berenergi, rendah diri, postur tubuh sikap fetus.
b.      Curiga :
tidak percaya orang lain, bermusuhan, isolasi sosial, paranoiaisolasi
c.       Manipulasi :
kurang asertif, isolasi sosial, harga diri rendah, tergantung pd orang lain, ekspresi perasaan tidak langsung pada tujuan.








C.  DATA YAN PERLU DIKAJI
Masalah keperawatan
Data yang perlu dikaji
Isolasi sosial
Subjektif:
·      Klien mengatakan malas bergaul denga orang lain
·      Klien mengatakan dirinya tidak ingn ditemani perawat dan meminta untuk sendiri
·      Klien mengatakan tidak mau berbicara dengan oran lain.
·      Tidak mau berkomunikasi

Objektif:
·      Kurang spontan
·      Apatis ( acuh terhadap lingkungan)
·      Ekspresi wajah kurang berseri
·      Tidak merawat diri sendiridan tidak memperhatikan kebersihan
·      Tidak ada atau kurang komunikasi verbal
·      Mengisolasi diri
·      Asupan makanan dan minuman terganggu
·      Retensi urin dan feses
·      Aktivitas menurun
·      Kurang berenergi atau bertenaga
·      Rendah diri
·      Posturtubuh berubah, misalnya sikap fetus atau janin ( khususnya pada posisi tidur)


D.  MASALAH KEPERAWATAN YANG MUNGKIN MUNCUL
1.      Isolasi sosial
2.      Harga diri rendah kronis
3.      Perubahan persepsi sensori : halusinasi
4.      Koping invidu tidak efektif
5.      Koping keluarga tidak efektif
6.      Intoleransi aktivitas
7.      Defisit perawatan diri
8.      Risiko tinggi mencederai diri sendri, orang lain, dan lingkungan.


E.  DIAGNOSIS KEPERAWATAN
isolasi sosial

F.   RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN
1.      Tindakan keperawatan untuk klien:
a.       Membina hubungan saling percaya
b.      Menyadari penyebab isolasi sosial
c.       Mengerahui keungungan dan keruguan bergaul dengna orang lain
d.      Melakukan interaksi dengan orang lian secara bertahap
2.      Tindakan keperawatan untuk keluarga:
a.       Keluarga mengetahui masalah isolasi sosial dan dampaknya pada klien
b.      Keluarga mengetahui penyebab isolasi sosial
c.       Sikap keluarga untuk membantu klien mengatasi isolasi sosialnya
d.      Keluarga mengetahui pengobatan yang benar untuk klien
e.       Klien mengetahui tempat rujukan dan fasilitas kesehatan yang tersedia bagi klien.



f.       POHON MASALAH
                                                   Risti mencedaderai diri sendiri, dan lingkungan
 
   Defisit perawatan diri                                      PPS: Halusinasi

       intoleransi aktivitas                                           Isolasi sosial
                                                       Harga diri rendah kronis
  Koping keluarga tidak efektif                        Koping keluarga tidak efektif
Gambar 1.2. pohon masalah isolasi sosial










DAFTAR PUSTAKA
Carpenito, Lynda Juall (2000), Handbook Of Nursing Diagnosis, (Monica Ester : Penerjemah) Philadelphia (sumber asli diterbitkan, 1999), Buku Saku Diagnosa Keperawatan. EGC ; Jakarta.
Stuart, Gaill Wiscare (1998), Buku Saku Keperawatan Jiwa, Edisi 3. (Yuni. S. hamid:penerjemah) EGC ; Jakarta.
Issacs (2004), Panduan Bealajar keperawatn Kesehatan Jiwa dan Psikiatri, Edisi 3. (Praty Rahayuningsih, penerjemah) EGC ; Jakarta


Tidak ada komentar:

Posting Komentar