Jumat, 22 Juni 2012

Dimensi Psikologis Kesehatan Mental


Dimensi Psikologis Kesehatan Mental

Aspek psikis manusia pada dasarnya merupakan suatu kesatuan dengan system biologis.Karena itulah aspek psikis tidak dapat dipisahkan dari aspek yang lain dalam melihat manusia.
Ada beberapa aspek psikis yang turut berpengaruh terhadap kesehatan mental ,yaitu pengalaman awal,proses pembelajaran ,kebutuhan ,dan factor psikologis lain.

A. Pengalaman awal
     
    Pengalaman awal merupakan segenap pengalaman-pengalaman yang terjadi pada individu terutama yang terjadi di masa lalunya.pengalaman masa lalunya menentukan bagi kondisi mental individu di kemudian hari.    Beberapa ahli yang memandang bahwa pengalaman awal sangat berpengaruh terhadap kondisi mental itu adalah Sigmund freud,Erik H.Erikson ,dan jhon Bowlby.

  1. Psikoanalisis    Teori Psikoanalisis di kemukakan oleh Sigmund freud.bahwa kepribadian manusia terdiri dari tiga elemen yang berinteraksi secara dinamis.ketiga elemen itu adalah id,ego,dan super ego.    Id adalah subsistem kepribadian yang asli yang dimiliki individu sejak lahir ,karna itu biasanya disebut sebagai subsistem kepribadian yang primitive.freud berpandangan bahwa kerja id adalah atas dasar prinsip kenikmatan (pleasure principles) .tempat id ini pada bagian ketidak sadaran (unconscious) dan secara langsung berpengaruh terhadap tingkah laku seseorang tanpa disadari.  Super ego adalah bagian lain dari struktur kepribadian.lawan dari id ,yaitu bagian dari struktur kpribadian yang di kembangakan dari kebudayaan ,nilai-nilai social,dan proses pendidikan dari orang tua.super ego terbentuk karna adanya interaksi dengan lingkungan sosianya.super ego selalu berada pada tingkat kesadaran(conscious) dan dapat pula berada pada ambang sadar (preconsiousness).terbentuk sejak anak-anak dan terus berkembang hingga dewasa.    Ego merupakan bagian dari struktur kepribadian yang jg penting bagi kepribadian manusia.ego merupakan mediator antara dorongan-dorongan biologis yang dating dari id dengan tuntutan moral dari super ego.prinsip kerja ego adalah realitas.ego ini mengendalikan tuntutan instinktif dan pertimbangan moral.    Saat id bekerja,ego mulai berfungsi .namun tidak semua kebutuhan dan keinginan dari id dapat langsung di penuhi ,ada factor super ego yang berfungsi sebagai koode moral selalu mengendalikan dorongan dorongan itu.egolah yang membuat keputusan terhadap perilaku individu ,apakah melakukan sebagaimana dorongan nya atau menolak dorongannya sejalan dengan super egonya,atau kompromi-kompromi di antara keduanya.    Seseorang yang terlalu lemah atau terlalu kuat egonya di pengaruhi oleh id.sementara jika terlalu kuat pengaruh superegonya maka akan cennderung menghlang-halangi pemenuhan keinginan-keinginan instinknya.namun jika egonya sangat kuat ,maka akan membuat keputusan yang rasional dan realistic.    Menurut freud ada tiga macam kecemasan yang mungkin terjadi yang kecemasan neoritik (neurotic anxiety),kecemasan realitas (reality anxiety).dan kecemasan moral (moral anxiety)   Kecemasan neoritik yaitu kecemasan individu akibat khawatir tidak mengatasi atau menekan keinginan primitifnya.kecemasan realitas adalah kecemasan yang terjadi akibat ketakutannya menghadapi realitas,dan kecemasan moral adalah kecemasan akibat rasa bersalah dan ketakutan dihukum oleh nilai-nilai yang ada pada nalurinya.   Untuk menghindari kecemasan itu ,kemudian individu berusaha menghindarinya.caranya menggunakanmekanismepertahanandiri.yaiturepresi,proyeksi,reaksiformasi,fiksasi,regresi,penolakan,rasionalisasi,salah sasaran,dan introjeksi.simptom2 itu dapat berkembang menjadi gangguan bgi individu jika dipertahankan terus menerus.    Lemah ego bgi individu sangat berkaitan dengan pembentukan awal.pembentukan awal yang kurang tepat membuat anak tidak dapat memiliki cara penanganan yang tepat terhadap masaalah yang dihadapi dan dapat berakibat gangguan mental bagi anak.
  2. Epigenetik    Erik H. Erikson mengenalkan konsep perkembangan manusia yang terjadi dari tahap satu ke tahap berikutnya secara epigenetic.epigenetik artinya:proses pertumbuhan organisme janin,langkah demi langkah,dan pertumbuhan setiap bagian organ itu muncul pada saat yang paling tepat bagi organ itu.    Manusia itu tidak saja tumbuh secara biologis tetapi jg secara psikologis.sejalan dengan prinsip ini ada delapan tahapan perkembangan yang secara berurutan di lalui.pada setiap perkembangan tertentu dapat psikologis yang selalu bertentangan.di satu sisi menggambarkan kepribadian yang berhasil disisi lain adalah kutub kepribadian karna kegagalan .
    Delapan kutub kepribadian itu adalah:1.       Kepercayaan dasar lawan ketidakpercayaan dasar.2.       Otonomi lawan rasa malu3.       Inisiatif lawan rasa bersalah4.       Ketekunan lawan rasa rendah diri5.       Identitas lawan kebimbangan6.       Keakraban lawan keterasingan7.       Generalitas lawan stagnasi8.       Intergritas lawan keputusasaan
  • Tahap 1: Kepercayaan vs KetidakpercayaanKepercayaan diperoleh pada masa bayi ,yang berarti bayi mempercayai kontak dengan ibunya atau pengasuh dekatnya.jika sepanjang masa ini dia ternyata tidak pernah kontak dengan ibunya maka akan muncul perasaan tidak percaya dan menarik diri.
  • Tahap 2: Otonomi vs Rasa maluAnak mulai belajar mengembangkan otonominya sebagai pribadi yang lepas dari pihak lain,anak mencoba mengembangkan tindakannya sesuai otonominya sendiri.kalau anak mampu mengembangkan tindakannya sesuai dengan dikehendakinya sendiri akan menghasilkan otonomi,tapi jika harus mengikuti kehendak orang tuanya maka menimbulkan rasa malu atau ragu-ragu.
  • Tahap 3: inisiatif vs rasa bersalahAnak mulai bertanya-tanya kejadian lingkungannya dan memcoba pengalaman baru,Bantuan dan bimbingan orang tua untuk mengembangkan  “daya jelajah” anak akan menimbulkan rasa inisiatif,sedangkan hukuman dan perlakuan yang tidak tepat dari orang tua akan menghasilkan rasa bersalah.pada masa ini ego terbentuk ,”aku adalah apa yang dapat saya rencanakan’
  • Tahap 4: Ketekunan vs Rasa rendah diriAnak mulai belajar di sekolah.selain belajar pengetahuan baru jg mengembangkan keterampilannya yang dapat di akui secara umum.jika dalam perkembangan ini dapat tekun ,berhasil dan memperoleh penghargaan dari guru dan temannya ,akan terbentuk rasa ketekunan ,sebaliknya jika memperoleh reaksi yang sebaliknya dari lingkungan sosialnya akan berakibat rasa rendah diri.
  • Tahap 5: Identitas vs Kebingungan PeranYang sangat penting bagi remaja adalah pencarian identitasnya.remaja yang dapat menemukan identitasnya dirinya serta memiliki peran yang baik akan mencapai tingkat identitas yang mantap,sementara jika tidak mencapai berakhir dengan rasa kebimbangan peran.
  • Tahap 6: Keintiman vs IsolasiOrang yang memiliki identitas mantap memiliki kecenderungan memiliki keintiman yang baik di bandingkan dengan yang kebingungan peran.orang yang berhasil membangun relasi akan membentuk kepribadian yang memiliki rasa intim ,sebaliknya jika tidak mampu membangun relasi intim akan menghasilkan rasa terisolasi.
  • Tahap 7: generative vs stagnasiOrang dewasa mulai mengembangkan usahanya secara produktif .di keluarganya mulai mendidik anak ,di dunia kerja jg berada di puncak “kemampuan kerja” .mereka yang berhasil cara hidup yang baik akan menimbulkan rasa generative ,sementara yang gagal akan merasa stagnasi.
  • Tahap 8: Integritas vs KeputusasaanJika pada fase-fase sebelumnya berhasil akan dan dapat menerima siklus serta lingkungannya maka akan mencapai integritas.jika menolak pengalaman dan perjalanan hidupnya akan merasa keputusasaan.Jadi kedelapan tahap perkembangan itu sekaligus sebagai fase krisis .kegagalan dalam menyelesaikan fase krisisnya akan menimbulkan hambatan dan gangguan mental bagi seseorang .


    3.  Ikatan Orang Tua dan Anak
        Bowly (1961)mengemukakan bahwa kelekatan anak tertuju pada ibunya,dan hingga usia tiga tahun ,kelekatan anak kepada ibunya sangat kuat ,dan setelah itu mulai berkurang.namun demikian ,hingga usia enam tahun ,figure ibu tetap penting bagi anak.   Kelekatan anak kepada vigur ibu dapat di katakan sebagai sebuah kebutuhan dan sama pentingnya dengan kebutuhan makan dan minum.secara fisisk-biologis ,kelekatan anak kepada figure ibu dapat menghindari dari bahaya yang mengancamnya:secara social,sebagai wahana belajar membangun ikatan dengan orang lain dan melekat kepada ibu merupakan pengalaman pertamanya:sedangkan secara emosional kelekatan dapat menghilangkan kecemasan dan ketakutan terhadap lingkungan baru(Tomlinson-keasey,1985)    Bowly (1961-1980) mengemukakan bahwa semenjak masa bayi perilaku lekat ini tertuju pada ibu sebagai pusat figurnya .meskipun ada jg yang melekat pada ayah atau kakek neneknya ,anak cenderung memeilih kepada ibunya.jadi kelekatan anak bersifat tunggal ,karna itu bowly berpandangan peran ibu tidak dapat di gantikan dengan orang lain.   Pandangan bahwa kelekatan anak bersifat jamak kini telah diperluas lagi.kelekatan itu jg terjadi  tidak hanya secara vertical yaitu anak melekat kepada orang yang di anggaplebih tua seperti orang tua,pengasuh dan guru,tetapi dapat pula terjadi secara  horizontal seperti sebayanya.hal ini menunjukan nahwa kelekatan anak kepada orang lain,khususnya figure lekatnya dipengaruhi oleh factor tertentu ,misalnya perkembangan kognisi anak ,kemampuan komunikasi dengan orang-orang terdekatnya atau orang lain yang di anggap dapat bertindak sebagai pemberi ganjaran yang bersifat sekunder    Hubungan anak dengan figure khususnya hanya dapat dibentuk melalui proses hubungan khusus.karna itu ,tidak semua anak mendapatkan hubungan yang khusus ini dari ibu atau penggantinya.banyak factor yang menghambat pembentukan hubungan khusus ini diantaranya yaitu:1. Factor budaya seperti kedua orang tua di luar rumah (klein,1985)kebiasaan pengasuhan kolektiv (rabin,1964)2. Factor personal seperti ibu yang menderita psikosis (kumar dan brockington,1982)ketidakpekaan memberi respon3.  Factor-faktor social seperti kemiskinan4.  Dan,factor emosional seperti salah dalam memperlakukan anak (maltreatment)dan penolakan orang tua terhadap anak.

    Kondisi-kondisi ini beresiko tinggi bagi pembentukan hubungan anak dengan orang tua dan dapat menimbulkan masalah bagi kelekatan anak.Kegagalan  kelekatan anak kepada figure ibu bukan persoalan sederhana .bowly (1961) mengemukakan bahwa tiadanya ibu secara permanen berakibat problem psikistris yang berat dan dapat menimbulkan rasa duka (mourning)bagi anak.anak di tinggalkan ibunya sebelum usia 6 tahun menunjukan perilaku protes ,despair dan yang lebih berat lagi munculnya perilaku detachment,yaitu tidak ada kelekatan dengan ibunya
B. Proses Pembelajaran
                Perilaku manusia sebagian besar adalah hasil belajar ,yaitu hasil pelatihan atau pengalaman.karna itu factor lingkungan anak sangat menentukan mentalitas individu.
                Terdapat tiga saluran belajar yaitu;
1.       Belajar dengan asosiasi
2.       Belajar dengan konsekuensi
3.       Belajar dengan mencontoh

1.belajar dengan asosiasi

   Belajar dengan asosiasi biasanya di sebut classical conditioning di kemukakan oleh Pavlov.”sangatlah penting hubungan organisme dengan lingkungan.atas dasar ini menurut Pavlov terdapat dua hal penting yang perlu memperoleh perhatian yaitu:
·      Organism selalu berinteraksi dengan lingkungan dan
·      Dalam interaksi itu organism di lengkapi dengan reflex.


   Lingkungan menurut Pavlov merupakan suatu stimulus bagi terbentuknya tingkah laku tertentu.berdasarkan penelitiannya terhadap anjing yang di beri serbuk daging di klasifikasikan terdapat dua jenis lingkungan yaitu unconditioning stimulus (cs).cs adalah lingkungan yang secara natural menimbulkan respon tertentu yang disebutnya sebagai unconditioning response (ucr)sedangkan cs tidak otomatis menimbulkan respon bagi individu ,kecuali ada pengkondisian tertentu dan respon yang terjadi akibat pengkondisian cs disebut conditioning response (cr)
    Eksperimen yang dilakukan oleh Pavlov ini sekaligus di gunakan untuk menjelaskan pembentukan perilaku pada manusia ,misalnya gangguan neurosis khususnya gangguan kecemasan dan phobia banyak terjadi karna factor adanya asosiasi antara stimulus ,yang sebelumnya netral dengan respon individu.
Pembentukan secara asosiativ ini selain pada pembentukan tingkah laku yang neorologis ,juga pada tingkah laku yang normal.misalnya perilaku rajin belajar jg dapat terbentuk karna adanya asosiasi s-R

2. Belajar dengan konsekuensi

   Belajar dengan konsekuensi di kemukakan oleh skinner.menurut skinner ,perilaku individu terbentuk atau di pertahankan sangat ditentukan oleh konsekuensi yang menyertainya.
   Skinner melakukan penelitian terhadap tikus .respon tertentu yang memperoleh ganjaran berupa makanan ternyata di ulangi ,sementara yang tidak mendapat ganjaran perilaku tidak di ulangi .dalam eksperimen itu di temukan bahwa perilaku-perilaku yang memperoleh ganjaran itu tidak hanya di ulang tapi frekuensi responnya cenderung meningkat.
      Gangguan kepribadian antisocial dan perilaku destruktif dapat terjadi dan di pertahankan oleh individu di antaranya karena memperoleh ganjaran dari lingkungannya.peruban perilaku ini dapat terjadi jika individu memperoleh ganjaran dan di berikan secara tepat terhadap perilaku yang diharapkan dan hukuman yang diberikan terhadap perilaku yang tidak di harapkan.
  3. Belajar Dengan Mencontoh
        Bandura mengemukakan teori social learning setelah melakukan penelitian terhadap perilaku agresif  di kalangan anak-anak.menurutnya anak-anak berperilaku agresif setelah mencontoh perilaku modelnya.mencontoh itu dapat dilakukan secara langsung atau tidak langsung .gangguan penggunaan zat adiktif dan perilaku anti social merupakan bagian dari gangguan mental yang dapat terbentuk karna melalui proses imitasi.
c. Kebutuhan
     maslov (1964) beranggapan bahwa motivasi seseorang dibentuk melalui kebutuhan-kebutuhan dasarnya yang tersusun secara hierearki.kebutuhan itu secara berturut-turut adalah kebutuhan biologis ,kebutuhan rasa aman ,kebutuhan dicintai, kebutuhan harga diri,kebutuhan pengetahuan ,kebutuhan keindahan,kebutuhan aktualisasi diri.kebutuhan ini dapat mendorong orang berbuat jika kebutuhan pada jenjang dibawahnya sudah terpenuhi.karna itu pemenuhan pada hieraki yang mendasar lebih di utamakan di banding kebutuhan pada jenjang yang lebih tinggi.
     Dalam berbagai study yg di lakukan maslow di temukan bahwa orang-orang yang mengalami gangguan mental ,khususnya menderita neorosis di sebabakan oleh ketidak mampuan individu memenuhi kebutuhan-kebutuhannya.karna itu maslow menyatakan bahwa penyakit mental apapun namanya merupakan penyakit defisiensi yaitu ketidakmampuan indifidu mengenali serta memuaskan kebutuhan-kebutuhannya.
       Bagi maslow ,pemenuhan kebutuhan2 merupakan factor penting bagi kesehatan mental seseorang,yang salah satu cirinya adalah persepsinya yang realistic terhadap semesta.
D. Kondisi Psikologis Lain
                Kondisi psikologis yang lain di antaranya temperamen ,ketahanan terhadap stressor,kemampuan kognitif ,adalah factor-faktor yang turut berpengaruh terhadap kesehatan mental.pada faktor2 psikologis ini pada setiap orang berbeda .faktor2 itu dapat menjadi potensi yang dapat meningkatkan kesehatan mental seseorang dapat pula menjadi hambatan kesehatan mental.

E. Kesimpulan
        Factor psikologis merupakan salah satu dimensi yang turut mempengaruhi kesehatan mental seseorang .faktor2 psikologis itu diantaranya adalah pengalaman awal,proses pembelajaran,kebutuhan,dan kondisi psikologis lainnya.
  Terdapat sejumlah gangguan mental yang di kaitkan dengan dimensi psikologis ini ,gangguan kecemasan,gangguan afeksi,gangguan perilaku lainnya selalu dihubungkan dgn kondisi2 psikologis yang didapatkan oleh individu.kondisi psikologis yang kurang baik akan berakibat jelek bagi kesehatan mental ,sementara kondisi psikologis yang baik akan memperkuat kesehatan mentalnya.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar